:: Love is Like Heaven and Hell ::





Tuesday, October 09, 2007

Butterfly Kisses

KupuKupu Merah kekasihku,

Malam ini bulan tengah bersembunyi. Pun tak ada gemintang terserak di angkasa. Waktu yang biasa kunikmati denganmu menjadi pudar keindahannya, tanpa aksaramu bermain di layar magnetikku.  Dering penanda hadirmu pun membisu.  Hangatmu begitu bias tanpa pelukan sesungguhnya. Gelisah ini tak tertahankan. Sampaikah segala rindu yang kualamatkan padamu?

" Peri kecilku, ruang batinku penuh oleh dirimu."

Aku menemukanmu kembali pada yahoo messenger.  Kita berkejaran di blog.  Saling bersahutan di telepon.  Sms-sms bertaburan rayu dan canda berterbangan. Avatarmu sanggup terbitkan damba begitu akut. Jadikan lamunan bertepi harap akan temu. Sudah berapa lama Batara Kala bermain dengan kita? Terkikik geli melihat  dua manusia kasmaran di jejaring optik.  

 " Apakah rindumu benar nyata?"

Maya adalah nyata ketika jiwaku sudah merasuk ke dalamnya.  Lafal namamu begitu deras dalam darahku. Lalu apakah akan kau nafikan keberadaan semu ini atau akan kau kejar menuju kebenarannya? Kakiku tetap di sini. Terikat pada labirin yang kau tahu tak berujung pangkal.  Ulurkan tanganmu padaku, dan mungkin aku akan bisa terbebas dari segala belenggu halangi kepak sayap kecilku.

"Aku ingin bertemu, tidak dalam maya."

Maka untailah benang jarak kita. Hingga ujungnya sampai kepadaku. Kan kunanti kau di sini. Mendekap segala puisi, cerita, dan sms berbalut rindu kita. Lalu kau tahu bahwa ini rindu adalah nyata. Pun keberadaanku, keberadaanmu, keberadaan kita. Dan kita rajut keterikatan ini dalam dunia sesungguhnya yang kita bagi.  

 "Izinkah aku menciummu."

KupuKupu Merah terkasih, bawa aku terbang bersamamu. Satukan semesta kita dalam satu ciuman itu. Tak dapatkah kau rasa debaran jantungku? Liar oleh kecupan selembut sayapmu.  Ini adalah ciuman lama tertahan. Gairah pun meledak bebas membombardir indera kita.  Geletar euforia nan syahdu. Ini bukan lagi mimpi tergusah ketika pagi menjelang, melainkan keterpenuhan begitu erat.  Cinta bergelora terlalu dahsyat untuk tetap dalam bejananya.  Hingga nanti berwujud cincin melingkar di jari manis kita.

 "Apakah aku gila? Ataukah kau?"

 Ya. 
Mungkin kita berdua gila.
Tergila-gila satu sama lain.


FaNNie shed tears at 02:34 pm

Name
May 12, 2008   01:38 PM PDT
 
cape deeeeeeeeeeeeeeee........
Fannie
October 10, 2007   04:48 PM PDT
 
Lalu lelaki hujan,
Ke mana mimpimu bermuara?
Apakah hanyut tertelan harap
Ataukah beku oleh waktu?

 


Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry