:: Love is Like Heaven and Hell ::





Wednesday, December 12, 2007

Kekasih Gelapku

Ku mencintaimu lebih dari apa pun
Meskipun tiada satu orang pun yang tahu
Ku mencintaimu sedalam-dalam hatiku
Meskipun engkau hanya kekasih gelapku

 
# Dia
Berapa kali pun aku memandangmu, rasa itu tetap ada. Bersemi tak tergantung pada musim. Berdegup gembira akan kehadiranmu. Menari liar seiring dengan merdu suaramu memanggilku. Tak peduli pada teriakan merana logikaku. Aku tak dapat menghilangkan rasa ini. Lalu apa yang harus kulakukan? Aku terlalu mencintaimu untuk berhenti mencinta.

 
"Aku tak suka terus seperti ini."
"Lalu apa yang ingin kau lakukan? Berhenti?"
"Tidak. Aku tak mau berhenti. Aku ingin kau yang berhenti."
"Berhenti apa? Mencintaimu?"
"Tidak. Berhenti mencintai Dia juga."

 
#Sang kekasih
Sampai kapan aku akan terus berada di sini. Terombang-ambing di antara dua kutub. Berselimut dusta namun bergelimang cinta. Tapi apakah itu cinta? Ketika kau bukanlah milikku utuh. Aku ternafikan seperti juga keberadaan cinta kita. Tak berarti. Namun aku masih tak bisa melepasmu. Posesif seringkali menjelma iblis menggerogoti hati. Padahal tak ingin aku mengikatmu. Sedari awal kau bukanlah milikku. Aku tahu, namun itu tak menghentikan cintaku.

 
"Sesungguhnya aku tak bisa."
"Tak bisa apa?"
"Menjadi kekasih gelapmu."
"Tapi aku tak bisa menjadikanmu nyata."
"Lalu apa cinta kita maya?"

 
#Sang kekasih
Kutemui dia pertama kali saat badai mengguyur Jakarta. Dingin, namun auranya menyelimutiku. Senyumnya, duhai begitu hangat.  Sejak saat itu dia adalah matahariku, my beautiful sunshine. Aku tak dapat melepaskan dirinya, sampai kapan pun. Aku adalah bunga matahari, selalu memandang ke arah matahari. Lalu apakah matahari itu pernah memandangku juga? Ataukah ia menyinari bunga-bunga lain selain aku? Karena aku jatuh cinta pada matahari itu.

 
"Aku mencintaimu, kau tahu?"
"Tentu aku tahu. Tapi apakah hanya cinta?"
"Kalau tidak cinta, apalagi yang kau inginkan?"
"Dunia."
"Bagaimana bisa kuberikan dunia yang bukan milikku sendiri?"
"Kau berikan dunia ketika dunia tahu aku ada."

 
# Dia
Andai aku bisa memberinya dunia. Namun itu tidak mungkin. Langkahku tidaklah sebebas angin. Aku bukanlah matahari, yang bersinar dan membuatnya hidup. Aku adalah penyamun. Begitu culas mencuri hatinya. Tapi bersama dengan itu juga dia mencuri hatiku. Perkenalan di tengah guyuran hujan itu benar benar melenakanku. Tak ingin aku pulang, bahkan hanya sekedar beranjak dari sisinya. Makan malam terindah dalam hidupku. Bahkan kehadiran Dia di sisiku pun tak mampu membiaskan pesonanya. Aku jatuh cinta.

 
Kutahu kutakkan slalu ada untukmu
Disaat engkau merindukan diriku
Kutahu kutakkan bisa memberikanmu waktu
Yang panjang dalam hidupku

 
#Sang kekasih
Sudah berapa malam yang kucuri dari Dia? Malam pertama kita adalah satu di antara seribu malam selanjutnya. Siapakah yang membangun jembatan di antara kita? Kurasa kita berdua melangkah bersamaan. Tergesa ingin menyentuh. Berusaha mengalahkan waktu. Hanyut dalam gairah tak berkesudahan. Cinta ini tetap membara hingga detik ini. Namun sampai kapan? Aku lelah berada dalam kegelapan.

"Apakah kau bahagia?"
"Sangat. Dan kau?"
"Ya."
"Lalu mengapa?"
"Mengapa apa?"
"Mengapa ingin kau ubah keadaan ini?"
"Karena bahagiaku kalah dari kegelapan kita."

 
# Dia
Semua malam terlalui denganmu adalah surga bagiku. Hanya pada malam gelap aku datang padamu. Sungguh, aku merasa seperti Eros yang datang mengunjungi Psyche. Bersembunyi  dan bercinta denganmu di gelapnya malam. Aku tahu mengapa kau sangat membenci kegelapan. Janji yang terkatakan pada saat gelap bukankah sebuah janji, hanya omong kosong, kau kerap berkata begitu. Lalu kapan kita akan bisa bertemu jika tidak dalam kegelapan? Tapi janjiku tak memudar seiring pagi menjelang. Aku tetap mencintaimu.

 
Yakinlah bahwa engkau adalah cintaku
Yang kucari selama ini
Dalam hidupku
Dan hanya padamu kuberikan sisa cintaku
Yang panjang dalam hidupku

 
#Sang kekasih
Kegelapan menggangguku. Tapi nuraniku lebih menggangguku. Tak sanggup aku mengingat wajah Dia. Getir yang melintas di wajahnya ketika Dia tahu. Pandangan terkejut dan hilangnya rasa percaya itu. Amarah yang muncul sesudahnya. Dan perih yang kemudian meluas, hingga menyeretku tenggelam. Lara ini aku juga yang menanggung. Tak Cuma kau dan Dia.

 
"Aku tak sanggup lagi."
"Kuatlah untukku."
"Lalu siapa yang akan menguatkanku?"
"Cintaku."
"Yang kau bagi dengan Dia?"

 
#Sang kekasih
Aku ingin memilikimu.
Namun aku tak bisa.
Aku ingin berhenti mencintaimu.
Hentikan aku.

 
# Dia
Kau pergi. Aku tak bisa mengejarmu. Ada Dia yang tetap menantiku. Dia yang memilikiku. Tapi aku ingin mengejarmu. Sanggupkah aku? Apakah aku bisa memberimu dunia? Apakah bisa kuputuskan rantai pengikatku? Aku tak sanggup kehilanganmu.

 
#Sang kekasih
Aku pergi. Biarkan aku pergi.

 
# Dia
Jangan pergi. Aku akan melepas segalanya.
Miliki aku.
Biarkan aku memilikimu utuh sekarang.

 
#Sang kekasih
Aku harus pergi.
Untukmu. Dan juga Dia.

"Apakah kau akan pergi?"
"Ya. Kembalilah padanya."
"Apakah kau tidak mencintaiku lagi?"

"Aku mencintaimu. Lebih dari apapun."
"Meskipun tiada satu pun orang yang tahu?"
"Aku mencintaimu sedalam-dalamnya hatiku."
"Meskipun kau adalah kekasih gelapku?"

"Tapi aku tetaplah kekasihmu."
"Dan aku mencintaimu. Tetaplah bersamaku."
"Tidak."

 
#Sang kekasih
Sudah.
Selesai sudah.
Aku masih mencintaimu, kau tahu?


#Dia
Berakhir.
Selesai.
Aku masih mencintaimu, kau tahu?

 
#Aku
Mereka saling mencinta. Sahabat baikku dan istriku.
Namun aku terlalu mencintainya.
Dan tak mau melepasnya.
Salahkah aku?

 

FaNNie shed tears at 04:56 pm

Yaya
December 13, 2007   10:17 AM PST
 
Kau pasti bisa memilih melepaskan dia bersama kekasihnya.

Mungkin bukan sekarang kerelaan hati bisa kau berikan..

mungkin nanti..

Akan ada satu hari
kau akan terbangun
dari harapan semua
memilikinya
Lelaki Hujan
December 12, 2007   09:51 PM PST
 
ehm....dan aku pun terlena oleh mantra dahsyatmu!

 


Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry