:: Love is Like Heaven and Hell ::





Wednesday, April 01, 2009

Perpenuhan Renjana



Menantimu hingga saat
Cintaku temukan dirimu
Usai sudah sampai disini
Berdiri melabuhkan asmara*

 

Kekasihku,

Ingatkah kau pada renjana yang kita bagi?

Sepotong demi sepotong masa kita terangkai. Terulur menyeberangi usia kita. Saat jiwa masihlah kanak hingga kini kita menjejak dewasa. Beberapa fragmen dirimu sudahlah hilang, tak dapat kusentuh lagi. Begitu juga beberapa kepingan diriku telah tak dapat kau raih. Terlalu lama jalan ini kita tapaki sendiri, hingga di persimpangan tempat kita bertemu. Goresan dan retakan dalam jiwa kita munculkan asing. Namun perlahan asing itu meleleh dalam waktu yang kita bagi.  Kini kita pun bisa mencatat narasi dan merekatkan kenang. Perjanan mencarimu usai sudah. Namun perjalanan kita berdua masihlah menanti.

 

"Kamu adalah cinta pertamaku."

"Bukankah itu sudah lama berlalu?"

"Tidak terlalu lama hingga aku bisa menemukan dirimu kembali."

"Namun semua sudahlah berbeda. Aku bukanlah aku yang dulu kau kenal."

"Aku pun sudah bukan aku yang dulu menyapamu."

"Lalu apakah ini hanyalah bias masa lampau?"

"Tidak. Karena aku yang sekarang pun jatuh cinta pada dirimu yang sekarang."

 

Kekasihku,

Di antara renjana kita menari.

Renik asaku pun menyatu dengan jiwamu. Berdansa liar menautkan inti diri kita. Setetes demi setetes aku mencecap rasa milikmu. Sementara kau hidu aroma milikku. Kita pun perlahan berpadu menjadi satu. Tenggelamkan ragu dan sisakan harap demikian pekat. Degup rindu mengambang di udara. Mengeja nama kita berdua.  Bergetar mengantarkan janji akan kebersamaan. Tidak hanya untuk saat ini, namun untuk selamanya. Merangkum segala masa akan dulu dan kini. Munculkan depan yang memanggil kita.

 

"Biarkan aku menjadi cinta terakhirmu."

"Kapankah cinta terakhir itu ada?"

"Ketika telah kau temukan seseorang untuk berbagi hidup."

"Bagaimana aku tahu kaulah orang yang aku cari? Orang yang akan menjadi cinta terakhirku?"

"Kau tak akan pernah tahu. Kau hanya perlu percaya pada hatimu."

"Lalu apa yang hatimu sendiri katakan?"

"Dia hanya berkata tak sabar mengarungi hidup denganmu."

 

Kekasihku,

Kini renjana itu semakin berwujud, melingkar indah menunggu kita ikatkan takdir. Sudah berapa purnama kita lewati bersama. Di sela rindu dan pedih. Di antara senyum dan tangis. Menyelipkan getir namun juga terkadang membara oleh amarah. Pelangi rasa kita demikian kaya warna. Kenang ini pun demikian sarat, namun juga lapar oleh calon-calon kenang lain. Bukankah kita berjanji untuk mengisinya? Di antara simpul rapuh yang perlahan menjadi erat. Menggelinjang inginkan perpenuhan. Jadikan keberadaan ini semakin nyata. Buhul kebersamaan kita akan tunjukkan jalan pulang, dan kesanalah kita menuju. Hingga tak ada lagi aku dan kamu. Hanya ada kita.

 

"Menikahlah denganku. Bukan untuk aku. Bukan untuk kamu. Tapi untuk kita."

 

Kekasihku,

Sambut uluran tanganku.

Izinkan aku sematkan renjana.

 Jadikan Ia permata penghias akad kita

Dan cinta ini akan mewujud seutuhnya.

Selamanya

 

Menikah denganku
Menempatkan cinta
Melintasi perjalanan usia
Menikah denganmu
Menetapkan jiwa
Bertahtakan kesedian cinta
Selamanya*

 

P.S. I love you always and all ways.

 

*Menikah denganku by Kahitna


FaNNie shed tears at 03:34 pm


 


Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home