KupuKupu Merah
Dan
Peri Kecil
Peri kecil pencinta kerumitanku, bukankah dulu kau damba
labirin ini?
Telah kuberikan kunci
pembuka gerbang lama tertutup. Kidungku telah mengodamu kemari. Dan kau
tinggalkan kesederhanaan di luar sana. Terbang bebas menuju buaian rumit. Kala malam tak berbintang, kau pintal hening bersama renjana untuk selimut
tidurku. Lalu mengapa kini hanya kau dekap kupukupu merah itu?
Siapakah kupukupu merahmu itu, wahai peri kecil pencari
jalan pulang?
Jalan ini berujung
kepadaku. Segala rumit dan sesat ini jadikan kau dan aku sebagai pusatnya. Mengapa
masih kau ingkarinya? KupuKupu merahmu hanyalah semu. Terwujud oleh rindu
demikian akut, ketika bisik cintaku tertenung diam. Dia hanyalah debar silam
yang masih bersemayam di jiwamu. Hingga munculkan senyawa khayal. KupuKupu
merah adalah sunyi yang kau cumbu. Sementara aku begitu candu akan riuhmu. Tak
ingatkah kau pada euforia emosi ketika tawa itu kita bagi?
Tak sadarkah kalian, bahwa tenung ini tidak mengkat seluruh adaku?
Lelap tak merenggut
sadarku. Jiwaku masihlah berkedip lemah. Dapat kurasa percumbuan kalian pada
malam beraroma melati. Puncak asa demikian mabuk. Pesta pora bahagia
terkungkung oleh sepi. Serpihan rindu kalian sungguh menggodaku untuk terbangun.
Dan mungkin bisa kukacaukan perhelatan asa kalian. Tenung ini adalah untukmu
jua. Keterasingan ini akan luruh oleh cintamu. Mengapa tak kau bebaskan aku?
Dan aku akan menjadi peneman dalam nyatamu. Tak seperti kesemuan kupukupu
merahmu.
Mimpi ini adalah mimpiku juga, duhai pencari jalan
pulang.
Pulang
hanya pada titik di tengah labirin. Tempat kita bermain bersama bias rembulan. Inti dari labirin bersemayam begitu jauh dalam jiwamu. Terurai bersama
waktu yang kau haturkan untukku. Lalu mengapa hendak kau culik
waktu itu lagi? Biarkan aku simpan waktu ini. Seperti kusimpan bayang dirimu
yang menemani kesendirianku.
Peri kecilku, kekasih jiwaku yang sesat
Kembalilah padaku.
Tempatmu berpulang.
Labirin ini adalah persembahanku.
-Minotaur yang menunggumu di inti labirin-